Renungan singkat "Allah hadir di masa Krisis" Daniel 3:1-21
"Allah hadir di masa Krisis" Daniel 3:1-21
Pilihan
Sulit: Taat Allah = Mati Vs Taat Raja = Hidup
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diperhadapkan pada satu situasi yang
paling sulit dalam kehidupan iman mereka. Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung
emas di dataran Dura di wilayah Babel dan memberikan perintah supaya setiap
orang, tidak terkecuali Sadrakh, Mesakh dan Abednego harus sujud menyembah di
hadapan patung tersebut pada saat sangkakala dibunyikan.
Perintah raja ini memiliki konsekuensi bila tidak dipatuhi, yaitu akan
dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Ketiga pemuda Yahudi ini
sadar bahwa perintah tersebut bertentangan dengan iman mereka karena hanya
kepada Allah saja mereka menyembah. Namun, jika mereka tidak patuh, api yang
menyala-nyala menanti mereka.
Kengerian yang dihadapi oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak hanya
pada perintah raja tersebut, tetapi ditambah dengan situasi di sekeliling
mereka yang sama sekali tidak berpihak pada mereka. Orang-orang Kasdim datang
kepada raja Nebukadnezar dan melaporkan ketiga pemuda Yahudi tersebut. ”Ada
beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan
atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego… mereka tidak memuja
dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.”
(ay.12). Orang-orang Kasdim tersebut sengaja memberi penekanan bahwa ketiga
orang Yahudi ini menerima jabatan atas kemurahan Nebukadnezar untuk menunjukkan
bahwa orang-orang ini tidak tahu berterima kasih dan tidak setia kepada raja
yang telah mempercayai mereka. Seolah ingin membangkitkan murka raja atas
ketiga pemuda ini. Ditambah lagi, mereka adalah pemuda-pemuda asing di negeri
Babel, tidak ada yang berpihak kepada mereka. Bahkan sekilas kelihatan mereka
seperti dibiarkan oleh Tuhan, tidak segera memberi pertolongan. Selain itu yang
mereka hadapi adalah kuasa seorang raja yang tidak dapat dilawan oleh siapa
pun.
Bukankah kita juga sering menghadapi situasi yang sulit seperti ini
dalam kehidupan iman kita? Ada kalanya kita menghadapi situasi seolah-olah
kejahatanlah yang memegang kendali dan menguasai seluruh keadaan dan kita
berada di dalam posisi yang sangat lemah dan tak berdaya. Apa yang membuat kita
dapat bertahan dalam iman kita di tengah krisis dan kesulitan yang berat? Apa
yang membuat Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap berdiri teguh dan menolak
dengan berani perintah raja Nebukadnezar?
Ketaatan
Total di Atas Segalanya
Sebetulnya ada sejumlah alasan bagi Sadrakh, Mesakh dan Abednego untuk
takluk terhadap perintah raja Nebukadnezar. Mereka bisa saja kompromi satu kali
saja dan setelah itu mereka akan taat sepenuhnya kepada Allah. Apalagi ini
akibatnya nyawa mereka bisa melayang. Mereka juga dapat beralasan, jika mereka
mati, bagaimana caranya mereka melakukan hal-hal baik untuk Allah dan umat-Nya?
Bukankah kehendak Tuhan yang membawa mereka sampai ke dalam posisi yang penting
di Babel? Bagaimana mungkin mereka dapat mewujudkan rencana Allah terhadap
umat-Nya jika pada akhirnya mereka mati?
Sekalipun alasan-alasan mereka di atas dapat saja dimaklumi jika harus
menyembah patung emas tersebut, namun, bagi mereka ketaatan kepada Allah
melampaui segala-galanya. Mereka rela melepaskan semua pencapaian mereka dalam
pemerintahan Babel demi ketaatan kepada Allah. Bahkan mereka tidak peduli
terhadap nyawa mereka karena ketaatan kepada Allah melampaui segalanya,
termasuk nyawa mereka sendiri. Respons mereka terhadap perintah raja
Nebukadnezar sungguh merupakan tindakan iman yang sangat berani.
Ketika Nebukadnezar menebar ancaman terhadap mereka, respons mereka
sungguh mengejutkan, “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada
tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami,
maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari
dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui,
ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah
patung emas yang tuanku dirikan itu.” (ay. 16-18). Apakah kita dapat
membayangkan kepercayaan dan ketaatan yang sedemikian rupa terhadap Allah yang
Mahakuasa? Mereka percaya Tuhan sanggup melepaskan mereka dari kematian, tetapi
mungkin juga Tuhan tidak berkehendak melakukannya. Dan jika itu terjadi, mereka
siap mati untuk kehendak Allah.
David Livingstone (1813-1873) adalah seorang misionaris dari Skotlandia
yang telah melepaskan begitu banyak hal berkaitan dengan harta duniawi untuk
menaati panggilan Tuhan. Dia meninggalkan karirnya di bidang medis di
Skotlandia dan pergi ke Afrika. Pelayanannya di Afrika telah membuka jalan bagi
pekerjaan misi dan perdagangan yang membongkar perdagangan manusia (budak) yang
selama ini terjadi di sana.
Apakah Saudara tahu apa yang pernah dialami oleh Livingstone selama
menjadi misionaris di Afrika? Dia pernah diserang dan menjadi cacat oleh seokor
singa, rumahnya hancur pada saat terjadi perang Boer, tubuhnya sering tersiksa
oleh demam dan disentri, dan yang paling menyedihkan adalah istrinya meninggal
di sana. Suatu ketika seseorang berkata kepadanya, ”Dr. Livingstone, Anda telah
mengorbankan begitu banyak untuk Injil.” Jawabanya sangat mengejutkan,
”Pengorbanan? Hanya ada satu pengorbanan yaitu hidup di luar kehendak Allah.”
Dalam kehidupan kita sehari-hari kita juga dapat menghadapi ”perapian”. Kita
dapat diperhadapkan pada pilihan antara mengikuti Tuhan dan kehendak-Nya atau
kenyamanan, kemapanan dan harta duniawi. Perenungan besar buat kita adalah
apakah kita berani membayar apa pun demi sebuah ketaatan kepada Tuhan? Apakah
kita rela melepaskan hal-hal berharga dalam hidup kita untuk mengikuti
kehendak-Nya?
Keyakinan
Terhadap Kehadiran Allah
Kita telah melihat pengorbanan David Livingstone untuk menaati panggilan
Tuhan kepadanya. Suatu ketika seseorang bertanya kepadanya bagaimana ia dapat
bertahan menanggung kesulitan yang amat berat dalam jangka waktu yang lama? Dia
menjawab bahwa kata-kata Yesus selalu terngiang di telinganya, ”… Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
(Mat. 28:20). Livingstone pernah berkata, ”Without Christ, not one step; with him,
anywhere.” Kehadiran Tuhan adalah kunci dari keberanian untuk menanggung segala
konsekuensi ketaatan kita kepada-Nya.
Di tengah-tengah ketidak-berdayaan Sadrakh, Mesakh dan Abednego
menghadapi perapian yang menyala-nyala dan murka sang raja, Allah hadir memberi
pertolongan. Kehadiran Allah bahkan mengagetkan Nebukadnezar. Ayat 25 mencatat,
“Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di
tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti
anak dewa!” Kita tidak tahu secara pasti siapa oknum keempat di
dalam perapian tersebut.
Ada yang menafsirkan itu adalah kemunculan pra-inkarnasi Kristus,
malaikat Tuhan, atau Allah sendiri. Namun, sekalipun kita tidak dapat
memastikan siapa sosok tersebut, yang pasti Nebukadnezar melihat kehadiran
sosok ilahi. Siapa pun sosok ilahi tersebut, kita dapat melihat bahwa Allah
mengekspresikan solidaritas, kehadiran-Nya bersama ketiga hamba yang setia
tersebut. Kehadiran Allah merupakan kekuatan yang maha dahsyat untuk melewati
perapian dan kuasa raja.
Percayalah! Allah menjamin bahwa Ia hadir bersama-sama dengan kita dalam
situasi krisis yang kita alami. Allah juga mempunyai cara yang berbeda-beda
untuk hadir dalam pengalaman setiap orang dan kadang dengan cara yang tak
terduga. Tuhan bisa saja membuka mata rohani kita dan menyadari kehadiran-Nya
melalui renungan atau ayat Alkitab yang kita baca. Atau melalui perkataan dari
seseorang di dalam pergumulan yang kita hadapi.
Tuhan dapat menunjukkan kehadiran-Nya ketika Ia memenuhi kebutuhan kita
dengan cara yang ajaib di saat kita sedang mengalami kesulitan keuangan. Dan
masih banyak lagi cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa Dia tidak pernah
membiarkan kita seorang diri, Ia selalu hadir bersama-sama dengan kita di
masa-masa tersulit dan terberat dalam hidup kita.
Kita mungkin kelihatan seorang diri menghadapi situasi krisis yang kita
alami. Sepertinya tidak ada orang yang berpihak pada kita. Sepertinya tidak ada
orang yang mengerti apa yang kita alami, bahkan mungkin orang memusuhi kita ketika
kita menyatakan kebenaran. Namun, percayalah, Allah bersama kita. Allah tidak
pernah meninggalkan kita kemana pun Tuhan memimpin kita melangkah dan dalam
situasi apa pun. Tuhan beserta kita! (Khotbah Kristen Daniel 3 | Kedaulatan
Allah di Masa Krisis.
Komentar
Posting Komentar